Qian Lanyi menarik napas dalam, menenangkan emosinya. "Pria ini memang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Beraninya mempermalukanku didepan orang banyak."

Lalu dengan gerakan cepat, Qian Lanyi menghunuskan pedangnya. Cahaya dingin berkilat di sepanjang bilahnya saat dia mengacungkan senjata itu ke arah Lynx.

"Keluarkan senjatamu," katanya tajam.

Namun, Lynx hanya menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan santai. "Aku tidak punya senjata."

Penonton kembali gempar.

"Tidak punya senjata?! Apa dia benar-benar mau melawan Qian Lanyi dengan tangan kosong?"

"Kau bercanda? Cepat ambil pedang! Kalau tidak, kau hanya mencari mati!"

Beberapa orang dari kerumunan bahkan menawarkan senjata mereka. "Gunakan pedangku!"

"Aku punya tombak! Lebih baik dari bertarung tanpa senjata!"

Namun, Lynx tetap bergeming. Dengan santai, ia berjalan menuju sebuah tongkat kayu yang tergeletak di dekat arena—mungkin bekas pegangan panji atau sisa kayu dari pertarungan sebelumnya. Ia mengambilnya, lalu menepuk-nepuk permukaannya seolah sedang memeriksa kualitasnya.

"Aku pakai ini saja," katanya tenang.

Qian Lanyi memicingkan mata. "Kau... memilih tongkat?"

Lynx tersenyum samar. "Aku tidak ingin mempermalukanmu dengan bertarung tangan kosong."

Wajah Qian Lanyi menegang. Ucapannya barusan terdengar santai, tapi bagi seorang ahli pedang sepertinya, itu jelas sebuah penghinaan!

Tanpa menunggu lebih lama, Qian Lanyi langsung melesat ke depan, mengayunkan pedangnya dengan gerakan cepat.

"Baiklah! Jangan menyesal kalau aku tidak menahan diri!"

Dia melancarkan teknik pedang dasarnya, flowing blade dance, serangkaian tebasan anggun namun tajam yang menyerang dari berbagai sudut.

Namun, dengan satu gerakan ringan, Lynx mengangkat tongkatnya dan menangkis serangan itu seolah hanya sedang bermain-main. Benturan antara kayu dan baja menggema di udara, namun setiap serangan Qian Lanyi terasa seakan meluncur sia-sia.

Penonton terkejut.

"Dia bisa menangkisnya dengan tongkat kayu?! Mustahil!"

Qian Lanyi mengerutkan kening. Tanpa ragu, ia langsung meningkatkan serangannya.

first crescent slash

Cahaya keperakan melingkar saat pedangnya melesat dalam busur sabit, mengarah ke bahu Lynx dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa.

Namun, Lynx hanya sedikit memiringkan tubuhnya, membiarkan pedang itu melesat beberapa inci dari kulitnya, lalu dengan santai mengetukkan tongkatnya ke pergelangan tangan Qian Lanyi.

Pak!

Qian Lanyi mendesis dan mundur selangkah. Tatapannya kini semakin tajam.

Tanpa ragu, ia mengerahkan lebih banyak qi, hawa pedangnya menjadi lebih tajam.

phantom mirage thrust

Pedangnya bergerak begitu cepat hingga tampak seperti bayangan berlapis-lapis, menusuk dari berbagai arah dalam sekejap.

Namun, Lynx tetap tidak terdesak. Dengan gerakan ringan, ia memutar tongkatnya, menangkis setiap tusukan dengan presisi sempurna.

Pak! Pak! Pak!

Sampai akhirnya, di akhir serangan, Lynx malah menyentuhkan ujung tongkatnya ke pinggang Qian Lanyi dengan cepat.

Tap!

Qian Lanyi terkejut dan melompat mundur, wajahnya semakin merah padam.

Penonton semakin heboh.

"Dia bisa menyentuh Qian Lanyi?! Itu berarti dia bisa menyerangnya jika mau!"

Qian Lanyi mengepalkan pedangnya lebih erat. Matanya menyala dengan tekad.

"Kau benar-benar cari masalah," gumamnya.

Tanpa membuang waktu, ia melompat ke udara, mengerahkan teknik andalannya.

blazing wind slash

Energi pedangnya berputar, menciptakan bilah angin panas yang meluncur ke arah Lynx dengan kekuatan luar biasa.

Namun, Lynx masih tetap santai. Ia hanya sedikit menggeser tubuhnya ke samping, membiarkan angin tajam itu melewati bahunya tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Sebelum Qian Lanyi bisa kembali berdiri tegak, Lynx sudah berada tepat di hadapannya.

Dengan satu gerakan ringan, ia mengetukkan tongkat kayunya ke pundak Qian Lanyi.

Pak!

Qian Lanyi membeku.

Dia... terkena lagi?! 

"Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengalahkan pemuda didepanku ini, padahal dia hanya forging qi tingkat dua?" Batinnya marah.

Seketika, rasa panas menjalar ke wajahnya, bukan karena qi atau tenaga dalam, melainkan karena rasa malu yang mulai menguasainya.

Untuk pertama kalinya, dia benar-benar marah.

Tanpa sadar, ia menggenggam pedangnya lebih erat, auranya bergejolak, dan kali ini, dia benar-benar berniat untuk menghajar pria di hadapannya dengan segenap kekuatannya.

Melihat wanita di depannya semakin marah, Lynx akhirnya menghentikan perbuatannya. Dia tersenyum tipis dan menurunkan tongkat kayunya.

"Kau semakin hebat sekarang, Lala," katanya dengan nada lembut. "Beberapa tahun tidak bertemu, kemampuanmu meningkat drastis."

Nama itu…

Qian Lanyi terhenyak. Seperti tersambar petir, tubuhnya menegang seketika. Kedua matanya melebar, dan pedang di tangannya hampir terlepas.

"K… Kamu…?"

Suara itu. Cara bicara itu. Tatapan santai dan senyuman samar itu. Semua begitu familiar, begitu nyata, tetapi juga terasa mustahil.

Dia melangkah perlahan mendekat, seolah takut semua ini hanyalah ilusi. Selama tiga tahun, dia mencari… dan kini, orang yang dicarinya berdiri tepat di hadapannya.

Lynx, melihat kebingungan di wajahnya, menghela napas kecil sebelum mengangkat tangan dan membuka penutup wajahnya. Senyum khasnya muncul.

"Halo, Lala. Kuharap kau tidak melupakanku."

Jantung Qian Lanyi seolah berhenti sesaat.

"Lynx…"

Suara itu gemetar. Rasa ragu dan haru bercampur menjadi satu dalam benaknya. Napasnya tersengal, dan dalam sekejap, dia berlari ke arahnya.

Tanpa ragu, tanpa peduli pada siapa pun, dia memeluk Lynx erat, seakan takut pria itu akan menghilang lagi.

Dari bawah panggung, Jelita menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Setelah sekian lama, setelah melalui perjalanan panjang, mereka akhirnya bertemu kembali dengan salah satu rekan mereka.

Namun, di tengah suasana yang penuh emosi, seorang pria dari kerumunan buru-buru mendekat. Wajahnya sedikit tegang saat dia berbisik, "Lala, kita harus segera pergi dari sini."

Qian Lanyi tersadar. Dia langsung menarik tangan Lynx. "Kita harus pergi sekarang."

Sebelum beranjak, Lynx menoleh ke arah Jelita. "Yun Qing, ikutlah!"

"Yun Qing?" Lala memandang ke seorang wanita yang di panggil oleh Lynx. Saat melihatnya, Lala langsung mengenalinya. Mata Lala berbinar saat melihat Jelita. Senyuman haru terukir di wajahnya, dan tanpa ragu, dia memeluknya sejenak sebelum kembali menarik mereka pergi. "Kita bicara di tempat lain."

Mereka berempat segera melesat meninggalkan keramaian, menghilang dari pandangan para penonton yang masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan.

Mereka menyusuri jalan sempit yang tersembunyi di antara gang-gang Kota Zhurong. Pria yang membawa mereka melangkah dengan cepat, sesekali melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti. Jalanan semakin gelap dan berkelok-kelok, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan tua yang tampak sepi.

Pria itu membuka pintu samping, memberi isyarat agar mereka masuk, lalu menutupnya rapat setelah mereka semua berada di dalam.

"Tempat ini aman. Kalian bisa bicara dengan tenang di sini," katanya.

Lala mengangguk. "Terima kasih, Han Shu."

Pria bernama Han Shu itu hanya tersenyum tipis. "Aku pergi dulu. Jika ada yang mencurigakan, aku akan segera memberitahu."

Setelah mengangguk hormat, Han Shu menghilang ke dalam kegelapan malam.

Lala segera menoleh ke arah Lynx dan Jelita. "Sekarang, jelaskan! Kemana saja kalian selama ini? Setelah kita terpisah dari portal, kenapa kalian menghilang tanpa jejak?"

Nada suaranya terdengar geram, tetapi dalam matanya jelas terpancar kegelisahan yang selama ini dipendamnya.

Lynx menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab, "Aku kehilangan ingatan."

Lala terdiam. Ekspresi terkejut tergambar jelas di wajahnya.

"Selama tiga tahun, aku hidup tanpa mengingat siapa diriku sebenarnya. Jelita yang menjagaku selama ini," ujar Lynx. "Baru beberapa minggu lalu aku pulih, dan sejak itu aku langsung mencari kalian."

Lala menatap Jelita dengan tatapan tajam. "Jadi selama ini kau yang bersamanya?"

Jelita mengangguk. "Kami tinggal di Desa Lianhua. Aku menggunakan nama Yun Qing, dan dia memakai nama Xiao Ling."

Mendengar nama itu, Lala mengerutkan kening. "Desa Lianhua? Anggotaku juga pernah mencari ke tempat itu, tapi mereka tidak menemukan petunjuk apa pun tentang kalian."

"Anggotamu?" Lynx menatapnya dengan sorot geli. "Sepertinya bukan hanya kekuatanmu yang meningkat dalam beberapa tahun ini, tapi kau juga sudah memiliki banyak pengikut."

Wajah Lala sedikit memerah, tapi dia segera mendengus sombong. "Hmph, apakah kau lupa siapa aku? Seorang jenius sepertiku, di mana pun aku berada, tentu akan menonjol!"

Lynx terkekeh. "Benar juga. Aku hampir lupa kalau ada wanita super jenius di antara kita."

Lala menyilangkan tangan, tersenyum penuh kemenangan. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menatap mereka dengan penuh selidik. "Tunggu, apakah kalian datang dari Kota Huoling juga ?"

Lynx mengangguk. "Benar. Kami sempat melewati Kota Huoling. Memangnya kenapa?"

Ekspresi Lala berubah. "Berarti… orang yang dimaksud oleh Tuan Zhen Huan adalah kalian?"

"Tuan Zhen?" Lynx mengernyit. "Jangan bilang… kau yang seharusnya kami temui di Paviliun Api Emas saat bulan purnama?"

Lala menggeleng. "Bukan aku yang akan menemui kalian. Tugasku hanya memastikan keamanan orang yang membawa informasi penting itu. Kalian pasti akan terkejut saat tahu siapa orang itu."

Jelita segera mendekat dengan wajah penasaran. "Lala, katakan saja! Jangan buat kami penasaran!"

Namun, Lala hanya tersenyum misterius. "Tunggu saja sampai waktunya tiba. Aku yakin dia akan sangat gembira bertemu kalian. Aku sendiri masih menunggu kabar darinya."

Lynx dan Jelita saling bertukar pandang. Hati mereka semakin dipenuhi rasa penasaran. Siapa sebenarnya orang yang akan mereka temui?

